🐬 Alun Alun Bondowoso Malam Hari
Mengingatalun-alun ditutup total akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ( PPKM ). Beruntung, saat ini penutupan alun-alun hanya dilakukan pada malam hari. Jadi, mereka tetap bisa beroperasi, walaupun pada malam hari harus mengganti rute yang biasa mereka lewati. 1 2 Tags Bondowoso Delman Previous article Next article
KBRN Bondowoso : Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bondowoso memberikan bantuan sembako kepada puluhan pekerja kaki lima (PKL) di alun-alun Ki Bagus Asra Bondowoso. Kepala Satpol PP, Slamet Yantoko menerangkan, penerima yang berjumlah 35 orang itu, merupakan PKL yang
Salahsatu tempat terbaik untuk melihat keindahan Jakarta pada malam hari adalah melalui salah satu gedung pencakar langit di daerah Bundaran HI. 2. Jembatan Suramadu, Surabaya-Madura. Jembatan sepanjang 5.438 meter yang melintasi Selat Madura ini merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini.
Videoitu viral setelah diunggah di akun Facebook bernama Vendy Pradana dengan judul “Alun-Alun Bondowoso”, Minggu (3/1/2021). Perilaku tak pantas yang dilakukan seorang pemuda itu diduga di taman Alun-Alun Raden Bagus Asra Bondowoso saat malam hari karena suasana dalam kondisi sepi. Dia bertelanjang bulat sambil melompat dan berenang.
Bondowoso| Senin, 31/12/2019Editor | ArmitoBONDOWOSO | LM.COM.- Dengan pergantian tahun 2019 alun - alun Bondowoso di banjiri ribuan Jamaah Muslimin Muslimat untuk bersholawat untuk mencari ridho Allah SWT, dan mengharap Syafaat Nabi Muhammad SAW.Ka
Kedatangannyake Jember, hanya untuk malam Minggu-an di Alun-alun kota Jember. Atas perbuatan melanggar kesopanan di muka umum, pihak satpol PP memberikan pembinaan dan pencerahan. "Keduanya diminta untuk membuat surat pernyataan, untuk tidak akan mengulangi perbuatan asusila di kemudian hari. Setelah itu, keduanya diperbolehkan
BISMILLAHalunalun #alunalunbondowo#vlog #bondowoso
Beritadan Informasi Alun alun bondowoso Terkini dan Terbaru Hari ini - detikcom. Semua Berita; Berita; Foto; detikNews Jumat, 10 Mei 2019 18:47 WIB
KeretaApi Tawang Alun merupakan kereta api yang masih mendapatkan subsidi public service obligaton (PSO) sehingga tarifnya pun sangat terjangkau. Dengan jarak tempuh sekitar 310 km dan waktu tempuh 7 jam 35 menit, pelanggan kereta api hanya perlu membayar sebesar Rp62.000,00. Untuk perjalanan parsial, tarifnya hanya sekitar Rp58.000,00.
PetugasTerus Beri Imbauan Prokes pada Pengunjung Alun-alun Bondowoso. Senin, 06 September 2021 - 17:40 Dan patroli malam pukul 20.00 hingga 21.00. Sedangkan patroli Satpol PP juga digelar pukul 10.00 sampai 11.00. Dan sore harinya 15.30 hingga 17.15. Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di
inilah suasana alun alun garut di siang harilumayan ramai tapi kalo mu lebih ramai di malam hari sama hari libur
Masyarakatlintas Daerah Operasional (Daop) 9 Jember pasti sudah tidak asing dengan Kereta Api Tawang Alun. Kereta yang mengambil nama dari tokoh raja di wilayah Kabupaten Banyuwangi ini adalah satu-satunya kereta api yang melayani rute Banyuwangi-Malang dan sebaliknya.. Kereta Api Tawang Alun berdasarkan Grafik Perjalanan Kereta Api
ypcw0. BONDOWOSO, – Satgas Penanganan Covid-19 Bondowoso kembali memperketat jantung kota Bondowoso. Tepatnya wilayah Alun-Alun RBA Ki Ronggo. Plus titik-titik yang menjadi tempat kerumunan warga. Hal ini dilakukan menyusul adanya peningkatan drastis kasus warga yang terkonfirmasi Covid-19 dalam sepekan terakhir. Kabag Ops Polres Bondowoso AKP Agustinus Robby Hartanto menerangkan, alun-alun ditutup pada hari senin hingga Jumat pukul sampai WIB. Sedangkan pada hari Sabtu-Minggu, alun-alun ditutup pada pukul pagi, guna mencegah adanya aktivitas car free day. “Di tempat kumpul massa seperti alun-alun, kafe, pertokoan, dan tempat keramaian lainnya,” katanya. Tak hanya melakukan penyekatan dan penutupan di alun-alun, pihaknya bersama TNI, satpol PP, Dishub, dan BPBD Bondowoso juga mengintensifkan operasi yustisi di beberapa titik. “Sampai mereda lagi. Walau sebenarnya kegiatan ini sudah pernah dilakukan, beberapa waktu lalu. Cuma, kali ini lebih kami intensifkan agar tidak ada ledakan Covid-19,” paparnya. Adapun pengetatan dilakukan pada Senin-Jumat dengan cara melakukan penyekatan di pagi hari sejak pukul hingga WIB. Penyekatan dilakukan di enam titik. Yakni di simpang tiga YIMA, simpang tiga Desa Koncer, Bundaran Nangkaan, simpang empat Stadion Magenda, simpang tiga SMP Negeri 7, dan simpang tiga Radio Romantika. “Kalau Sabtu dan Minggu, alun-alun kami tutup pagi agar tidak ada kegiatan car free day,” lanjutnya. Informasi dihimpun, tim satgas penanganan Covid-19 sebelumnya telah melakukan rapat teknis soal pembahasan revisi Peraturan Bupati Nomor 107 Tahun 2020. Hal tersebut dilakukan karena semakin banyaknya korban. Pemerintah harus punya dasar hukum yang jelas agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Bahkan, pemerintah tengah membahas mengenai revisi peraturan soal kegiatan pengajian, pengajian rutin, salawatan, haul/haul akbar, kifayah, serta kegiatan lainnya yang menghadirkan jamaah untuk sementara ditiadakan. Jurnalis Muchammad Ainul Budi Fotografer Muchammad Ainul Budi Editor Solikhul Huda BONDOWOSO, – Satgas Penanganan Covid-19 Bondowoso kembali memperketat jantung kota Bondowoso. Tepatnya wilayah Alun-Alun RBA Ki Ronggo. Plus titik-titik yang menjadi tempat kerumunan warga. Hal ini dilakukan menyusul adanya peningkatan drastis kasus warga yang terkonfirmasi Covid-19 dalam sepekan terakhir. Kabag Ops Polres Bondowoso AKP Agustinus Robby Hartanto menerangkan, alun-alun ditutup pada hari senin hingga Jumat pukul sampai WIB. Sedangkan pada hari Sabtu-Minggu, alun-alun ditutup pada pukul pagi, guna mencegah adanya aktivitas car free day. “Di tempat kumpul massa seperti alun-alun, kafe, pertokoan, dan tempat keramaian lainnya,” katanya. Tak hanya melakukan penyekatan dan penutupan di alun-alun, pihaknya bersama TNI, satpol PP, Dishub, dan BPBD Bondowoso juga mengintensifkan operasi yustisi di beberapa titik. “Sampai mereda lagi. Walau sebenarnya kegiatan ini sudah pernah dilakukan, beberapa waktu lalu. Cuma, kali ini lebih kami intensifkan agar tidak ada ledakan Covid-19,” paparnya. Adapun pengetatan dilakukan pada Senin-Jumat dengan cara melakukan penyekatan di pagi hari sejak pukul hingga WIB. Penyekatan dilakukan di enam titik. Yakni di simpang tiga YIMA, simpang tiga Desa Koncer, Bundaran Nangkaan, simpang empat Stadion Magenda, simpang tiga SMP Negeri 7, dan simpang tiga Radio Romantika. “Kalau Sabtu dan Minggu, alun-alun kami tutup pagi agar tidak ada kegiatan car free day,” lanjutnya. Informasi dihimpun, tim satgas penanganan Covid-19 sebelumnya telah melakukan rapat teknis soal pembahasan revisi Peraturan Bupati Nomor 107 Tahun 2020. Hal tersebut dilakukan karena semakin banyaknya korban. Pemerintah harus punya dasar hukum yang jelas agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Bahkan, pemerintah tengah membahas mengenai revisi peraturan soal kegiatan pengajian, pengajian rutin, salawatan, haul/haul akbar, kifayah, serta kegiatan lainnya yang menghadirkan jamaah untuk sementara ditiadakan. Jurnalis Muchammad Ainul Budi Fotografer Muchammad Ainul Budi Editor Solikhul Huda BONDOWOSO, – Satgas Penanganan Covid-19 Bondowoso kembali memperketat jantung kota Bondowoso. Tepatnya wilayah Alun-Alun RBA Ki Ronggo. Plus titik-titik yang menjadi tempat kerumunan warga. Hal ini dilakukan menyusul adanya peningkatan drastis kasus warga yang terkonfirmasi Covid-19 dalam sepekan terakhir. Kabag Ops Polres Bondowoso AKP Agustinus Robby Hartanto menerangkan, alun-alun ditutup pada hari senin hingga Jumat pukul sampai WIB. Sedangkan pada hari Sabtu-Minggu, alun-alun ditutup pada pukul pagi, guna mencegah adanya aktivitas car free day. “Di tempat kumpul massa seperti alun-alun, kafe, pertokoan, dan tempat keramaian lainnya,” katanya. Tak hanya melakukan penyekatan dan penutupan di alun-alun, pihaknya bersama TNI, satpol PP, Dishub, dan BPBD Bondowoso juga mengintensifkan operasi yustisi di beberapa titik. “Sampai mereda lagi. Walau sebenarnya kegiatan ini sudah pernah dilakukan, beberapa waktu lalu. Cuma, kali ini lebih kami intensifkan agar tidak ada ledakan Covid-19,” paparnya. Adapun pengetatan dilakukan pada Senin-Jumat dengan cara melakukan penyekatan di pagi hari sejak pukul hingga WIB. Penyekatan dilakukan di enam titik. Yakni di simpang tiga YIMA, simpang tiga Desa Koncer, Bundaran Nangkaan, simpang empat Stadion Magenda, simpang tiga SMP Negeri 7, dan simpang tiga Radio Romantika. “Kalau Sabtu dan Minggu, alun-alun kami tutup pagi agar tidak ada kegiatan car free day,” lanjutnya. Informasi dihimpun, tim satgas penanganan Covid-19 sebelumnya telah melakukan rapat teknis soal pembahasan revisi Peraturan Bupati Nomor 107 Tahun 2020. Hal tersebut dilakukan karena semakin banyaknya korban. Pemerintah harus punya dasar hukum yang jelas agar dapat mengambil keputusan yang tepat. Bahkan, pemerintah tengah membahas mengenai revisi peraturan soal kegiatan pengajian, pengajian rutin, salawatan, haul/haul akbar, kifayah, serta kegiatan lainnya yang menghadirkan jamaah untuk sementara ditiadakan. Jurnalis Muchammad Ainul Budi Fotografer Muchammad Ainul Budi Editor Solikhul Huda
BONDOWOSO, – Hiasan berbentuk burung garuda, naga, hingga ular terlihat menawan dipadukan dengan kendaraan roda dua yang ditarik menggunakan kuda. Ya, ketika sore hari pemandangan tersebut selalu tersaji di pusat kota Bumi Ki Ronggo. Sejumlah delman itu merupakan salah satu wisata yang dikenal dengan nama Bendi Wisata Bondowoso. Biasanya bendi-bendi wisata ini mulai beroperasi dari sore hari, kemudian berhenti pada malam hari. Berbagai lika-liku ternyata sudah mereka alami dari awal hingga saat ini. Termasuk harus menghadapi kerasnya hantaman pandemi Covid-19. Biasanya, dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung, bendi wisata itu akan memutari alun-alun sebagai rute utama. Tapi, setelah adanya pandemi, tidak jarang mereka harus mengubah rute sehingga lebih jauh, akibat dari penutupan alun-alun yang sering dilakukan beberapa waktu terakhir. Misnawi, 52, Ketua Paguyuban Bendi Wisata Bondowoso, menjelaskan, pendapatan mereka dari melayani pengunjung yang ingin naik delman tersebut berkurang saat pandemi. Pasalnya, dalam satu hari beroperasi, mereka hanya bisa menghasilkan maksimal Rp 100 ribu. Bahkan tidak jarang, penghasilan mereka berada di bawah angka tersebut. “Kalau pendapatan keuangan jauh berkurang memang,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen. Tak hanya itu, menurut Misnawi, dalam beberapa bulan terakhir mereka sempat tidak dapat beroperasi. Mengingat alun-alun ditutup total akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM. Beruntung, saat ini penutupan alun-alun hanya dilakukan pada malam hari. Jadi, mereka tetap bisa beroperasi, walaupun pada malam hari harus mengganti rute yang biasa mereka lewati. Jika alun-alun ditutup, biasa mereka beroperasi ke arah barat. Melalui Kelurahan Badean, Kota Kulon, dan kembali ke tempat awal di selatan alun-alun atau di depan Masjid Agung At Taqwa. “Ya, alhamdulillah masih bisa beroperasi,” tutur pria asal Desa Kajar ini. Untuk dapat menikmati sensasi menaiki bendi wisata, pengunjung cukup membayar dengan tarif Rp 30 ribu untuk dua kali putaran. Baik mengelilingi alun-alun ataupun melalui jalur Pekauman hingga Kota Kulon. “Sama, Rp 30 ribu untuk dua putaran,” cetusnya. Paguyuban Bendi Wisata, menurut Misnawi, juga sudah melakukan antisipasi terkait kotoran kuda hingga sisa pakan kuda. Biasanya, mereka menyediakan wadah khusus untuk kotorannya. Hal itu dinilai sebagai wujud upaya menjaga lingkungan tetap bersih. “Dari dulu memang dibentuk kebersihannya. Selalu dijaga,” pungkasnya. c2/lin BONDOWOSO, – Hiasan berbentuk burung garuda, naga, hingga ular terlihat menawan dipadukan dengan kendaraan roda dua yang ditarik menggunakan kuda. Ya, ketika sore hari pemandangan tersebut selalu tersaji di pusat kota Bumi Ki Ronggo. Sejumlah delman itu merupakan salah satu wisata yang dikenal dengan nama Bendi Wisata Bondowoso. Biasanya bendi-bendi wisata ini mulai beroperasi dari sore hari, kemudian berhenti pada malam hari. Berbagai lika-liku ternyata sudah mereka alami dari awal hingga saat ini. Termasuk harus menghadapi kerasnya hantaman pandemi Covid-19. Biasanya, dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung, bendi wisata itu akan memutari alun-alun sebagai rute utama. Tapi, setelah adanya pandemi, tidak jarang mereka harus mengubah rute sehingga lebih jauh, akibat dari penutupan alun-alun yang sering dilakukan beberapa waktu terakhir. Misnawi, 52, Ketua Paguyuban Bendi Wisata Bondowoso, menjelaskan, pendapatan mereka dari melayani pengunjung yang ingin naik delman tersebut berkurang saat pandemi. Pasalnya, dalam satu hari beroperasi, mereka hanya bisa menghasilkan maksimal Rp 100 ribu. Bahkan tidak jarang, penghasilan mereka berada di bawah angka tersebut. “Kalau pendapatan keuangan jauh berkurang memang,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen. Tak hanya itu, menurut Misnawi, dalam beberapa bulan terakhir mereka sempat tidak dapat beroperasi. Mengingat alun-alun ditutup total akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM. Beruntung, saat ini penutupan alun-alun hanya dilakukan pada malam hari. Jadi, mereka tetap bisa beroperasi, walaupun pada malam hari harus mengganti rute yang biasa mereka lewati. Jika alun-alun ditutup, biasa mereka beroperasi ke arah barat. Melalui Kelurahan Badean, Kota Kulon, dan kembali ke tempat awal di selatan alun-alun atau di depan Masjid Agung At Taqwa. “Ya, alhamdulillah masih bisa beroperasi,” tutur pria asal Desa Kajar ini. Untuk dapat menikmati sensasi menaiki bendi wisata, pengunjung cukup membayar dengan tarif Rp 30 ribu untuk dua kali putaran. Baik mengelilingi alun-alun ataupun melalui jalur Pekauman hingga Kota Kulon. “Sama, Rp 30 ribu untuk dua putaran,” cetusnya. Paguyuban Bendi Wisata, menurut Misnawi, juga sudah melakukan antisipasi terkait kotoran kuda hingga sisa pakan kuda. Biasanya, mereka menyediakan wadah khusus untuk kotorannya. Hal itu dinilai sebagai wujud upaya menjaga lingkungan tetap bersih. “Dari dulu memang dibentuk kebersihannya. Selalu dijaga,” pungkasnya. c2/lin BONDOWOSO, – Hiasan berbentuk burung garuda, naga, hingga ular terlihat menawan dipadukan dengan kendaraan roda dua yang ditarik menggunakan kuda. Ya, ketika sore hari pemandangan tersebut selalu tersaji di pusat kota Bumi Ki Ronggo. Sejumlah delman itu merupakan salah satu wisata yang dikenal dengan nama Bendi Wisata Bondowoso. Biasanya bendi-bendi wisata ini mulai beroperasi dari sore hari, kemudian berhenti pada malam hari. Berbagai lika-liku ternyata sudah mereka alami dari awal hingga saat ini. Termasuk harus menghadapi kerasnya hantaman pandemi Covid-19. Biasanya, dalam memberikan pelayanan kepada pengunjung, bendi wisata itu akan memutari alun-alun sebagai rute utama. Tapi, setelah adanya pandemi, tidak jarang mereka harus mengubah rute sehingga lebih jauh, akibat dari penutupan alun-alun yang sering dilakukan beberapa waktu terakhir. Misnawi, 52, Ketua Paguyuban Bendi Wisata Bondowoso, menjelaskan, pendapatan mereka dari melayani pengunjung yang ingin naik delman tersebut berkurang saat pandemi. Pasalnya, dalam satu hari beroperasi, mereka hanya bisa menghasilkan maksimal Rp 100 ribu. Bahkan tidak jarang, penghasilan mereka berada di bawah angka tersebut. “Kalau pendapatan keuangan jauh berkurang memang,” katanya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Ijen. Tak hanya itu, menurut Misnawi, dalam beberapa bulan terakhir mereka sempat tidak dapat beroperasi. Mengingat alun-alun ditutup total akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat PPKM. Beruntung, saat ini penutupan alun-alun hanya dilakukan pada malam hari. Jadi, mereka tetap bisa beroperasi, walaupun pada malam hari harus mengganti rute yang biasa mereka lewati. Jika alun-alun ditutup, biasa mereka beroperasi ke arah barat. Melalui Kelurahan Badean, Kota Kulon, dan kembali ke tempat awal di selatan alun-alun atau di depan Masjid Agung At Taqwa. “Ya, alhamdulillah masih bisa beroperasi,” tutur pria asal Desa Kajar ini. Untuk dapat menikmati sensasi menaiki bendi wisata, pengunjung cukup membayar dengan tarif Rp 30 ribu untuk dua kali putaran. Baik mengelilingi alun-alun ataupun melalui jalur Pekauman hingga Kota Kulon. “Sama, Rp 30 ribu untuk dua putaran,” cetusnya. Paguyuban Bendi Wisata, menurut Misnawi, juga sudah melakukan antisipasi terkait kotoran kuda hingga sisa pakan kuda. Biasanya, mereka menyediakan wadah khusus untuk kotorannya. Hal itu dinilai sebagai wujud upaya menjaga lingkungan tetap bersih. “Dari dulu memang dibentuk kebersihannya. Selalu dijaga,” pungkasnya. c2/lin
Bondowoso Antara Jatim - Kegiatan "Bondowoso Bersholawat" di Alun-alun Kota Bondowoso, Jawa Timur, Kamis malam dan berakhir hingga Jumat dini hari dimeriahkan dengan lambaian bendera merah putih yang dipegang oleh orang menghadiri kegiatan yang disi penampilan "Jam'iyah Sholawat Bhenning" dari Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Kabupetan Situbondo, itu. Mereka tidak beranjak hingga acara berakhir dengan tausiah dan doa dari Pengasuh Ponpes Sukorejo KHR Ahmad Azaim melambai-lambaikan merah sebagai lambang cinta Tanah Air, acara itu juga diawali dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan "Indonesia Raya".Sebelum tausiah, jemaah dihibur dengan iringan selawat hadrah yang merdu oleh personel Jam'iyah Sholawat Bhenning serta adegan teater dengan lakon berjudul "Penguasa Dzolim Arya Kuwu".Penampilan teater asuhan Ustaz Zainul Walid itu menyedot perhatian penonton dengan pesan dakwah tentang pemilihan pemimpin di suatu negeri. Lakon itu mengisahkan Kadipaten Pajang yang akan memilih seorang pemimpin atau dua calon dengan karakter bertolak belakang dalam adegan itu. Tokoh pertama adalah Arya Kuwu yang berambisi untuk berkuasa dan tokoh kedua adalah Arya Damar dengan watak santri yang "tawaddhuk" atau patuh pada petuah ulama dan tidak mewujudkan ambisinya, Arya kuwu mendatangi seorang dukun Mbah Dawuh diperankan oleh Zainul Walid dengan membawa sepeti emas. Dia berjanji kalau menang dan dilantik menjadi adipati, akan menambah lagi satu peti emas untuk Mbah pemilihan adipati dimenangi oleh Arya Kuwu. Setelah dilantik menjadi adipati, Arya Kuwu menunjukkan watak aslinya yang serakah dan kejam. Ia menarik upeti dari rakyatnya yang sudah menderita. Ia membunuh rakyatnya yang menentang sisi lain, Mbah Dawuh berharap kiriman emas dari Arya Kuwu. Setelah ditagih, Arya Kuwu menolaknya. Mbah Dawuh marah dan meminta pertolongan harimau penguasa Pajang untuk membunuh Arya tampil di acara pengajian, kata Zainul Walid, lakon drama ini juga berbingkai dakwah. Pesan yang disampaikan dalam lakon ini adalah ajakan kepada masyarakat di suatu wilayah untuk menjaga kerukunan meski berbeda dalam pilihan politik."Karena kalau rakyat di suatu wilayah atau negeri tidak rukun, maka tunggulah kehancuran negeri itu," kata ustadz yang juga dikenal sebagai penyair dan dramawan itu, pesan dalam lakon itu adalah, kedzaliman akan hancur jika melawan kebenaran. Sebaliknya kebenaran akan menemukan kemenangannya pada suatu saat. Setelah kematian Arya Kuwu, ulama di Pajang berunding dan sepakat memilih Arya Damar sebagai adipati agar tidak terjadi kekosongan kepemimpinan di negeri yang diwarnai permusuhan itu kemudian berakhir dengan ajakan ulama agar rakyat Kadipaten Pajang bersatu padu membangun negerinya. Panggung yang menghadap ke timur itu kemudian dimeriahkan kembali oleh alunan selawat dari kelompok "Sholawat Bhenning".Kiai Azaim yang juga cucu dari Pahlawan Nasional KHR As'ad Syamsul Arifin ini dalam ceramahnya mengingatkan jemaah tentang hadits Nabi Muhammad yang menyebutkan ada tujuh golongan umat yang kelak di Padang Mahsyar akan mendapatkan naungan dari dari golongan itu adalah orang yang saling mencintai karena Allah, kemudian berpisah juga karena Allah. Kiai Azaim menyebut bahwa para jemaah itu berkumpul karena Allah dan kemudian kembali ke rumahnya juga karena memenuhi kewajibannya masing-masing sebagaimana diperintahkan oleh Allah."Semoga kita semua menjadi bagian dari tujuh golongan yang kelak mendapat naungan dari Allah. Aamiinn," kata ulama muda kharismatik Bersholawat itu digelar oleh mahasiswi KKN Institut Agama Islam Ibrahimy IAII Sukorejo, Situbondo, bekerja sama dengan Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafiiyah IKSASS Rayon Bondowoso.*
alun alun bondowoso malam hari